Anakku dan Diriku

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa


NILAI  DESKRIPSI

1 Religius: Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2 Jujur :
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3 Toleransi :
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4 Disiplin: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5 Kerja Keras: Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6 Kreatif: Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7 Mandiri: Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8 Demokratis: Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9 Rasa Ingin Tahu:
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10 Semangat Kebangsaan: Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11 Cinta Tanah Air: Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12 Menghargai Prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, danmengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13 Bersahabat/
Komuniktif : Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara,bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14 Cinta Damai:  Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan oranglain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15 Gemar Membaca:  Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagaibacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16 Peduli Lingkungan:  Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17 Peduli Sosial:  Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18 Tanggung-jawab:
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam,sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Pendidikan Karakter Yang Berkualitas

Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalo alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas strandard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?

Jika diberi soal mengenai pendidikan karakter maka soal tersebut tidak benar-benar mengukur keadaan sebenarnya. Misalnya, jika anda bertemu orang yang tersesat ditengah jalan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjalananya apa yang anda lakukan? Untuk hasil nilai ujian yang baik maka jawabannya adalah menolong orang tersebut, entah memberikan uang ataupun mengantarnya ke tujuannya. Pertanyaan saya, apabila hal ini benar-benar terjadi apakah akan terjadi seperti teorinya? Seperti jawaban ujian? Lalu apa alat ukur pendidikan karakter? Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.



Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Helen Keller (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904) “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.

Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.



Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas? Maka kuncinya sudah dipaparkan diatas, ada alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Ingat, Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.

Sumber: http://www.pendidikankarakter.com/mewujudkan-pendidikan-karakter-yang-berkualitas/

Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa sebagai Prioritas

Mendidik karakter adalah bahasan unik, mengapa unik? Karena bahasan ini bisa “lari” kemana-mana bila kita membahas tentang manusia. Dan masalah tentang manusia adalah pekerjaan yang tidak ada habisnya, dari manusia lahir hingga meninggal banyak kejadian ajaib serta memalukan terjadi dalam kehidupannya.

Manusia adalah faktor penting dalam menciptakan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik dan sejahtera itu dapat dibentuk dan diciptakan. Pertanyaannya bagaimana membentuknya?

Bentuklah dari kebiasaan. Sebagai contoh, di Hong Kong kepadatan lalu lintas tidak seruwet di Jakarta, bahkan cenderung sepi dan lenggang. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta lalu lintas kendaraan di Hong Kong termasuk lenggang, bahkan hari-hari sibuk juga lenggang. Apa orang hongkong tidak memiliki kendaraan? Tidak, ternyata di Hong Kong ada 2 kehidupan, kehidupan di dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia yang saya maksudkan lenggang, tetapi dunia bawah adalah jalur subway atau kereta bawah tanah.

Jelas lebih padat aktifitas transportasi di dunia bawah. Hampir semua penduduk Hong Kong menggunakan fasilitas ini. Walaupun padat, tetapi meraka sangat teratur. Keluar melalui pintu samping kanan dan penumpang masuk melalui pintu samping kiri, rapi dan teratur. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ternyata ini adalah proses dari pembiasaan, hal ini sudah di biasakan sejak anak di sekolah dasar, sekolah mengajarkan keteraturan-keteraturan ini sejak usia dini. Mereka dibiasakan untuk melakukan ini, sehingga kelak mereka terbiasa. Para pembaca sekalian, anda tahu berapa waktu yang di butuhkan untuk membentuk karakter seperti ini? Apakah 6 bulan? 1 tahun? Ini butuh proses yang cukup lama dan perlu dibudayakan.

Indonesia memiliki nenek moyang yang ramah tamah dan sangat santun dalam berelasi dengan sesama dan kehidupan kesehariannya. Tetapi mengapa hingga ke belakang (saat ini), nilai itu pudar semua? Australia, suku asli Aborigin, mereka jauh tidak beradap dan jauh lebih brutal dari nenek moyang kita, tetapi kini mereka masuk dalam kategori negara yang sangat teratur dan tingkat kehidupan yang cenderung makmur. Ungkap seorang kawan yang bercerita kepada saya. Teringat juga saya ketika rekan saya lebih tepatnya dosen pembimbing skripsi saya saat pulang dari Australia dan kita bertemu di tahun 2012. Dia bercerita, saat terjadi banjir yang melumpuhkan Brisbane, dosen saya termasuk orang yang beruntung karena dia tinggal di flat yang agak tinggi dan tidak perlu mengungsi. “Orang disana tidak egois, rumah yang masih ada penghuninya saling di datangi, entah mereka kenal apa tidak. Mereka ketok setiap pintu mereka tawarkan bahan makan dan selimut, bertanya apa yang kita butuhkan, mereka saling berbagi dengan mudahnya dan ikhlas”, “apakah itu petugas khusus penanganan bencana yang datang kerumah anda?” tanya saya, “bukan, itu adalah tetangga–tetangga saya yang senasib dengan saya, dan mereka tidak tinggal di pengungsian” merinding saya dengar cerita tersebut. Bagaimana mereka dapat hidup berdampingan seperti itu dan memperlakukan orang lain yang bukan asli Australia seperti itu, tanpa pamrih.

Seandainya kita bisa berlaku seperti negara tetangga kita, indahnya hidup dan kebersamaan ini. Hingga akhirnya saya diberi tahu suatu fakta yang membuat otak saya “kram” sesaat. Ternyata untuk mendidik dan menanamkan sikap seperti di negara tetangga kita itu butuh waktu minimal 16 tahun, secara kontinyu dan konsisten. Dan untuk mendidik anak baca dan tulis serta berhitung tidak lebih dari 6 bulan. Orangtua di Australia, tidak pusing jika anaknya belum bisa baca tulis, karena itu akan dikuasai dalam 6 bulan ke depan, tetapi sikap disiplin dan pembentukan karakter diterapkan sedini mungkin, mereka tahu itu lebih penting dari sekedar baca tulis diusia 3 -5 tahun.

Semoga hal ini bermanfaat, dapat membawa pencerahan dan kebaikan bagi negara kita, dan tetap semangat dan majulah pendidikan karakter di Indonesia.

Sumber: http://www.pendidikankarakter.com/menanamkan-pendidikan-karakter-bangsa-adalah-suatu-prioritas/

Pengertian Pendidikan menurut para Ahli

M.J. Langeveld (1995) :
Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan.

Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan bertanggung jawab secara susila.

Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab.

Stella van Petten Henderson :
Pendidikan merupakan kombinasai dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan warisan sosial. Kohnstamm dan Gunning (1995) : Pendidikan adalah pembentukan hati nurani. Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan penetuan-diri secara etis, sesuai denga hati nurani.

John Dewey (1978) :

Aducation is all one with growing; it has no end beyond itself. (pendidikan adalah segala sesuatu bersamaan dengan pertumbuhan; pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir di balik dirinya).

H.H Horne :

Dalam pengertian luas, pendidikan merupakan perangkat dengan mana kelompok sosial melanjutkan keberadaannya memperbaharui diri sendiri, dan mempertahankan ideal-idealnya.

Encyclopedia Americana (1978) :
Pendidikan merupakan sebarang proses yang dipakai individu untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan, atau mengembangkan sikap-sikap ataupun keterampilan-keterampilan.

Pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis dan intensional dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.

Dari berbagai definisi tersebut di atas dapat kita kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan gejala insani yang fundamental dalam kehidupan manusia untuk mengantarkan anak manusia ke dunia peradaban. Pendidikan juga merupakan bimbingan eksistensial manusiawi dan bimbingan otentik, agar anak belajar mengenali jatidirinya yang unik, bisa bertahan hidup, dan mampu memiliki, melanjutkan-mengembangkan warisan-warisan sosial generasi yang terdahulu.

Kurikulum 2013 Diterapkan Juli 2013

Dengan disetujuinya Kurikulum 2013 berikut anggarannya oleh mayoritas fraksi di Komisi X DPR dalam Rapat Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dengan Komisi X DPR pada Senin (27/5), maka secara politik kontroversi tentang Kurikulum 2013 sudah berakhir.
"Dengan demikian, maka penerapan Kurikulum 2013 akan tetap dilakukan mulai tahun pelajaran baru, Juli  2013", ujar Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud, Ibnu Hamad, saat membuka dialog pendidikan dengan tema Kurikulum 2013: Menyiapkan Generasi Emas Indonesia, pada Selasa (29/5), di Palembang.
Menurut Ibnu Hamad, Kurikulum 2013 akan diterapkan secara bertahap dan terbatas, yakni pada kelas I dan kelas IV SD, kelas VII atau kelas I SMP dan kelas X atau kelas I SMA/SMK. Dengan cakupan sasaran penerapan,  SD: 2.598 sekolah, 15.629 guru, dan 342.312 siswa; SMP: 1.521 sekolah; 27.403 guru, dan 341.312 siswa; SMA: 1.270 sekolah, 5.979 guru, dan 335. 940 siswa; SMK: 1.021 sekolah, 7.102 guru, dan 514.783 siswa.
Ditambahkan Ibnu Hamad,  Mendikbud dan jajarannya telah menyosialisasikan Kurikulum 2013 pada 33 provinsi di seluruh Indonesia. Seluruh pendapat dan masukan  terhadap Kurikulum 2013 yang diterima Kemdikbud dalam sosialisasi tersebut, kemudian diagregasi dan dirangkum sebagai masukan untuk penyempurnaan Kurikulum 2013.
Dialog pendidikan yang diikuti 100 peserta tersebut dihadiri kepala sekolah dan guru SD, SMP, SMA/SMK se-Kota Palembang,  menampilkan tiga pembicara, yakni Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi dan Media, Sukemi, dengan topik Kurikulum 2013: Menyiapkan Generasi Emas Indonesia; Pembantu Rektor Bidang Akademik Universitas Sriwijaya, Anis Assegaf, tentang Kesiapan Perguruan Tinggi dalam Menerima Hasil Kurikulum 2013, dan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Selatan, Widodo, tentang Kesiapan Implementasi Kurikulum 2013. Kemudian bertindak sebagai moderator dalam dialog pendidikan ini, dosen Universitas Sriwijaya, Zulkifli Dahlan.

Hasil Seleksi SNMPTN Tahun 2013

Pengumuman Hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 yang dijadwalkan dirilis pada hari Selasa (28/5/2013) dimajukan ke hari ini, Senin (27/5/2013). Di situs resmi SNMPTN tercantum, pengumuman sudah bisa diakses mulai hari ini pada pukul 16.00.
Ketua Panitia SNMPTN 2013 Akhmaloka membenarkan hal tersebut. Pengumuman kelulusan dimajukan karena alasan administratif publikasi. Karena panitia akan menggelar konferensi pers mengenai hasil SNMPTN pada sore ini, panitia menilai perlu untuk menayangkan pengumuman di situs resminya mulai hari ini juga.

Hasil Seleksi SNMPTN Tahun 2013

Pada tahun ini, mayoritas kursi perguruan tinggi negeri diisi melalui jalur SNMPTN, yaitu seleksi masuk berdasarkan nilai rapor siswa SMA dari semester satu hingga semester lima. Selain itu, nilai ujian nasional juga menjadi syarat SNMPTN. Kelulusan SNMPTN akan batal jika peserta tersebut gagal lulus UN.

Ada sekitar 762.690 siswa kelas XII dari 1,7 juta yang tercatat pada Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) mendaftar untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013. Mereka akan bersaing untuk memperebutkan sekitar 135.000 kursi yang disediakan oleh 61 PTN.

Sementara itu, panitia SNMPTN menetapkan persentase minimum penerimaan mahasiswa baru ke PTN melalui tiga jalur, yaitu 50 persen melalui jalur SNMPTN, 30 persen melalui seleksi bersama PTN, dan 20 persen melalui seleksi mandiri.

Hasil SNMPTN dapat diakses melalui situs resmi dibawah ini :


Tutorial Lengkap Cara Pendaftaran SBMPTN Tahun 2013

Mulai Senin sudah dibuka. Waktunya itu standar Indonesia Barat, jadi kalau Indonesia Tengah dan Timur menyesuaikan saja,” ujar Ketua Panitia Umum Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Akhmaloka dalam jumpa pers di Hotel Atlet Century Park (11/05/2013).
Pendaftaran SBMPTN yang dibuka 13 Mei 2013 pada pukul 08.00 WIB, akan ditutup pada tanggal 7 Juni pukul 22.00 WIB melalui situs ujian.sbmptn.or.id. SBMPTN adalah seleksi yang diperuntukkan bagi siswa yang tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 dan lulusan SMA/SMK/MA 2011/2012.

Sehubungan telah dibukanya pendaftaran SBMPTN tentunya akan membuka peluang kepada Siswa/Siswi untuk mendaftar Masuk Perguruan Tinggi. Pendaftaran SBMPTN Berbeda dengan SNMPTN perbedaannya terletak pada : Jika SNMPTN pendaftarannya gratis, SBMPTN dikenakan biaya pendaftaran. Kelompok Sains dan Teknologi (Saintek) serta Sosial Humaniora (Soshum) dikenakan biaya Rp 175.000. Sedangkan untuk kelompok campuran, peserta harus membayar Rp 200.000.

Tutorial Lengkap Cara Pendaftaran SBMPTN Tahun 2013
scren shot : http://download.sbmptn.or.id/pendaftaran.pdf

Blog Pendidikan sengaja membagikan posting ini :  Tutorial Lengkap Cara Pendaftaran SBMPTN Tahun 2013 untuk memudahkan para pendaftar di SBMPTN. Tutorial ini dikutip dari situs resmi SBMPTN yakni sbmptn.or.id 


Pendaftaran SBMPTN Telah Dibuka

Jakarta, 13 Mei 2013 “Mulai Senin sudah dibuka. Waktunya itu standar Indonesia Barat, jadi kalau Indonesia Tengah dan Timur menyesuaikan saja,” ujar Ketua Panitia Umum Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Akhmaloka dalam jumpa pers di Hotel Atlet Century Park (11/05/2013).
Pendaftaran SBMPTN yang dibuka hari ini (13/5/2013) pada pukul 08.00 WIB, akan ditutup pada tanggal 7 Juni pukul 22.00 WIB melalui situs ujian.sbmptn.or.id. SBMPTN adalah seleksi yang diperuntukkan bagi siswa yang tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 dan lulusan SMA/SMK/MA 2011/2012.

Pendaftaran SBMPTN Telah Dibuka

Jika SNMPTN pendaftarannya gratis, SBMPTN dikenakan biaya pendaftaran. Kelompok Sains dan Teknologi (Saintek) serta Sosial Humaniora (Soshum) dikenakan biaya Rp 175.000. Sedangkan untuk kelompok campuran, peserta harus membayar Rp 200.000.
Yang berbeda dengan ujian tertulis adalah jumlah progam studi (prodi) yang dipilih. “Kali ini juga diperbolehkan untuk memilih tiga prodi apapun kelompok programnya,” ucap Akhmaloka. Pendaftar berhak bebas memilih prodi di 63 PTN yang mengikuti SBMPTN, pada salah satu pilihannya. Sedangkan untuk dua pilihan lainnya, pendaftar wajib memilih prodi yang ada di PTN sesuai dengan wilayahnya
Kunjungi Situs Resmi SBMPTN : http://sbmptn.or.id/

Daftar Siswa Terbaik Dengan Nilai UN Tertinggi Tahun 2013

Assalamualaikum dan salam sejahtera, akhirnya perjuangan para anak didik kita selama tiga tahun duduk di bangu Sekolah Menengah Atas Sederajat, telah berakhir dengan usaha dan doa. Namun dibalik kegembiraan dan keceriaan siswa/siswi yang telah lulus, ada beberapa siswa yang harus menerima kenyataan walaupun pahit dan dinyatakan tidak mencapai kriteria dan target niali akhir UN yang telah ditetapkan. Untuk siswa/siswi yang belum mendapatkan kesempatan melanjutkan ke jenjang berikutnya jangan bersedih hati, lapangkan dada, teguhkan hati dan yakin ada jalan untuk semua itu. 

Blog Pendidikan sengaja berbagi informasi ini kepada kita semua, untuk diketahui dan menjadi bahan pacu untuk bisa menjadi seperti mereka, menjadi juara dan masuk dalam daftar nilai tertinggi Ujian Nasional (UN) tahun 2013. Tahun kedepan untuk siswa/siswi pacu diri anda agar menjadi yang terbaik dan sejajar dengan mereka-mereka yang terdahulu. Manusia semua sama cara dan hidup mereka sama, tinggal kesungguhan, keyakinan, usaha, doa dan terus mau menjadikan kesempatan sebagai arena belajar dan memahami apa yang dicita-citakan.

Daftar Siswa Terbaik Dengan Nilai UN Tertinggi Tahun 2013

Dibawah ini adalah Daftar Siswa Terbaik Dengan Nilai UN Tertinggi Tahun 2013 :


1. NI KADEK VANI APRIYANTI, siswa kelas XII SMA N 4 Denpasar, Bali nilai 9,87

2. ADITYA AGAM NUGRAHA, siswa dari SMA N 1 Surakarta meraih nilai 9,78

3. HELENA MARTHAFRISKA SARAGI NAPITU, siswi dari SMA Swasta Methodist Medan, Sumatera Utara nilai 9,78

4. MADE HYANG WIKANANDA, siswa dari SMA N 4 Denpasar Bali, dengan nilai 9,76

5. LUH PUTU LINDAYANI, siswa dari SMA N 4 Denpasar Bali juga berhasil menyabet nilai 9,76.

6. ELVA VIDYA, dari SMAK 5 Penabur Provinsi DKI Jakarta nilai 9,75

7. GRACIA ISAURA PAULINA, dari SMA N 8 Provinsi DKI Jakarta nilai 9,75

8. PUTU SISKA APRILIYANI. Siswi dari SMA N 4 Denpasar nilai 9,75

9. NADIA ANINDITA VANDARI, siswi MAN Insan Cendikia Ciater Serpong nilai 9,75

10. SARAH ALYA FIRNADYA, siswi SMA N 8 Jakarta nilai 9,73

11. ZULVA FACHRINA, siswi SMA N 10 Samarinda Kalimantan Timur nilai 9,73

12. PUTU INDRI WIDIANI, siswi SMA N 4 Denpasar nilai 9,73

Demikian  Daftar Siswa Terbaik Dengan Nilai UN Tertinggi Tahun 2013 Selamat Untuk 12 Siswa/Siswi Terbaik dengan Nilai UN Tertinggi.

Siswa SMA Tak Lulus UN Sebanyak 8.250

Berdasarkan terbitan dari tulisan artikel di harian online Tribunnews.com dari hasil jumpa pers Sebanyak 8.250 siswa SMA peserta Ujian Nasional (UN) di Indonesia, tak lulus.
Itu terungkap dalam jumpa pers di Ruang DSS lantai 2 Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2013). Sementara, peserta yang lulus sebanyak 1.572.036 siswa.


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohamad Nuh mengatakan, siswa yang tak lulus tak perlu kecewa.
"Ini bagian dari kehidupan. Mereka yang tak lulus masih bisa ikut ujian kejar paket C Bulan Juli atau Juni," kata Nuh dalam jumpa pers.
Tulisan ini dikutip dari harian Tribunnews.com
sumber link : http://www.tribunnews.com/2013/05/23/8250-siswa-sma-tak-lulus-un